Bagi umat
Islam, ibadah merupakan ketaatan kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dalam
melaksanakan perintah Nya. Di dalamnya mencakup segala apa yang diridhoi Allah,
baik itu ucapan atau pun perbuatan, yang dhahir maupun yang batin.
Selain itu,
mereka juga meyakini bahwa ibadah merupakan perintah Allah yang menjadi tujuan
penciptaan manusia di bumi. Sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala :
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. (QS. al Baqarah : 21)
“Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa”. (QS. al Baqarah : 21)
“Aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (saja). Aku
tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki
supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki
Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS. Adz Dzariat: 56-58)
Oleh karena
itu, ibadah merupakan perkara yang penting dalam kehidupan seorang muslim.
Sehingga segala hal yang berkaitan dengan ibadah akan menjadi hal penting yang
harus diperhatikan. Agar ibadah yang dikerjakan tidak menjadi perkara yang
sia-sia.
Dalam upaya
mengawal setiap ibadah kita agar menjadi amal yang diterima Allah patutlah kita
simak perkataan seorang ulama salaf bahwa setiap perbuatan apapun pasti akan
ditanya dengan dua pertanyaan, yakni mengapa dan bagaimana. Mengapa kita
berbuat dan bagaimana kita berbuat.
Pertama, pertanyaan tentang mengapa kita berbuat.
Pertanyaan ini berkaitan dengan alasan dari perbuatan yang kita lakukan. Bila
kita kaitkan dengan ibadah kita, pertanyaan ini dimaksudkan untuk mengetahui
niat apakah yang melatar belakangi ibadah yang kita lakukan.
Sebagaimana
yang sudah kita pahami bersama bahwa niat merupakan salah satu perkara utama
dalam ibadah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Amal itu
tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya”. (HR.
Bukhori dan Muslim) Maksudnya adalah balasan dari setiap amal itu sesuai dengan
niatnya.
Karena setiap
amal baik itu mengandung penerimaan maka hadits di atas dapat diartikan bahwa
diterima atau tidaknya amal itu tergantung pada niatnya.
Imam Bukhari
menyebutkan hadits ini di awal kitab shahihnya sebagai mukadimah kitabnya,
menyiratkan bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap Wajah Allah
adalah sia-sia, tidak ada hasil sama sekali baik di dunia maupun di akhirat.
Oleh karena
itu apabila niat itu benar dan ikhlas karena Allah Subhaanahu wa Ta’aala maka
akan sah pula suatu amal dan akan diterima dengan izin Allah Ta’ala. Atau bisa
juga maksudnya adalah baiknya suatu amal atau buruknya, diterima atau
ditolaknya, mubah atau haramnya tergantung niat.
Begitu
pentingnya kedudukan niat itu hingga Yahya bin Abi Katsir mengatakan,
“Pelajarilah niat, karena niat lebih penting dari amalan”. Karena dengan
niatlah amalan akan menjadi baik dan perkataan menjadi benar.
Kedua, pertanyaan
tentang bagaimana kita berbuat. Dalam kaitannya dengan ibadah, pertanyaan kedua
bermaksud untuk mengetahui kadar mutaba’ah kepada Rasulullah di dalam
beribadah. Apakah ibadah tersebut sesuai dengan perintah Allah yang di
risalahkan kepada Rasulullah atau merupakan perkara yang mengada-ada.
Rasulullahbersabda:
مَنْ أَحْدَثَ
فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. [ رواه البخاري ومسلم
وفي رواية لمسلم] : مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
.
“Siapa yang
mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan (berasal) darinya, maka
dia tertolak.” [HR. Riwayat Bukhari dan Muslim], dalam riwayat Muslim
disebutkan: siapa yang melakukan suatu perbuatan (ibadah) yang bukan urusan
(agama) kami, maka dia tertolak.
Dari hadits di
atas dapat dipahami bahwa setiap ibadah yang dilakukan tanpa dasar tuntunan
dari Rasulullah maka akan menjadi perkara yang sia-sia. Sehingga setiap umat
Islam haruslah meneladani Rasulullah dalam setiap amal ibadahnya.
Begitu
bahayanya perkara bid’ah –hal baru dalam ibadah yang tidak berdasarkan tuntunan
Rasulullah– sampai Ibnu Mas’ud berkata, “Ikutilah (Sunnah Nabi) janganlah
melakukan bid’ah, karena sesungguhnya kalian telah dicukupi, dan seluruh bid’ah
adalah sesat.” (diriwayatkan oleh Abu Khoytsam dalam Kitabul Ilm dan Muhammad
bin Nashr al Marwazy dalam as-Sunnah).
Dari dua
pertanyaan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa agar setiap ibadah diterima
Allah maka kita harus senantiasa memperhatikan niat kita dalam beribadah. Di
samping itu, cara ibadah yang kita lakukan haruslah sesuai dengan tuntunan
Rasulullah.
Karena ibadah
adalah tujuan keberadaan manusia di bumi, maka akhiratlah yang menjadi tempat
bagi pertanggungjawabnya. Sebagaimana Rasulullah bersabda :
لَا تَزُولُ
قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا
أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ
وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua telapak
kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya
tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang ilmu, apa yg dia amalkan, tentang
hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan, serta
badannya pada perkara apa dia gunakan. (HR. At-Tirmidzi dan beliau katakan,
“Hadits hasan sahih.” Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666).
Sungguh
merupakan suatu kebahagiaan manakala kita mengetahui jika ibadah kita diterima
Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
Email: zaycakep23@gmail.com
0 komentar:
Posting Komentar